Sabtu, 22 Desember 2012

#1 Malaysia: Day Three

Hey.... Pagiii... hari Senin, 3 Desember 2012. Oh no, ini hari terakhir... aku sudah mulai betah padahal.... hiks.

Oya hari ini sebenernya aku pengen di Batu Cave, yaitu serangkaian gua dan kuil Hindu yang menyatu dengan bukit kapur dan ada patung dewa bersepuh emas yang berdiri tinggi dan megah. Berharap-harap akan beneran kesana. Memang dari Bukit Bintang masih jauh untuk kesana.

Akhirnya kami batal kesana kami harus check out jam 12.00 siang. Pesawat kami 19.55 dan kami harus tiba di bandara setidaknya jam 18.00. Sebenarnya di samping Anuja Restoran yang kemarin kami singgahi untuk makan siang sebenernya ada tempat penitipan tas. Bahkan di hostel kami menginap pun sebenernya boleh menitipkan tas setelah check out. Tapi repot harus bolak balik.

Sebagai gantinya aku dan suami hanya berjalan-jalan di sekitar hostel, ke arah berlawanan dari yang biasanya. Dan.... taraaaa... kami melihat Petronas menjulang. Rupanya semalam, seharusnya kami nggak perlu berlarian mengejar kereta terakhir, karena sebenarnya kami bisa berjalan kaki ke Hostel. Ah, bodohnya. Memang jika dari sisi Hostel dan jalan yang kami lalui biasanya saat akan ke stasiun Bukit Bintang, Petronas tidak nampak. 

Menengok ke sisi lainnya, tampak pula Kuala Lumpur Tower / KL Tower. Rupanya itu juga cukup dekat, aku meminta supaya kami kesana. Jalan kaki kami ke KL Tower, semacam Monasnya Malaysia. 

Menara Kuala Lumpur alias KL Tower (mirip Monas) (sumber: dok. pribadi)


Hey, aku juga mau mengomentari trotoar di KL ini, sungguh nyaman untuk berjalan kaki disini, tanpa harus disesaki asap hitam dari kendaraan, atau tanpa diganggu motor-motor yang menyerobot trotoar. Wowh... ini hebat. Jalanan tetap lengang. Sepertinya orang-orang disini sudah disupport MRT, LRT, dll yang sudah terintegrasi dengan baik, cepat, bisa diandalkan dan nyaman. So, buat apa repot-repot memakai kendaraan pribadi? Ini yang sepertinya masih menjadi impian kota-kota di Indonesia yang masih berjuang mencari solusi kemacetan. Hey, contoh saja KL. Ini sangat dekat dengan Indonesia lho. 

Infrastruktur di Kuala Lumpur yang rapi dan bersih. Kanan atas: Di Stasiun MRT Hang Tuah, tampak papan informasi elektronik yang menunjukkan jadwal kedatangan Kereta. Sangat Akurat; Kanan tengah: Salah satu sungai yang bersih dan rapi di dekat stasiun MRT Pudu; Kanan bawah: Hanya ini permukiman yang jamak di Kuala Lumpur, berupa flat/rusun/apartemen; Kiri bawah: Kondisi MRT dan stasiunnnya yang bersih dan terawat; Kiri atas: Mirip jalan layang di Indonesia tapi bedanya ini adalah jalur MRT.  (sumber: dok. pribadi dan dok. foto Adi Kusumajaya)

Setelah mampir ke KL Tower, berfoto di halaman luarnya (karena terlalu lelah untuk mendaki sampai ke dalam halaman) lalu kembali ke arah Hostel, membeli beberapa suvenir. Kami check out, jam 12.30 kami meninggalkan hostel menuju ke KL Sentral. Belum puas sebenarnya dan belum rela meninggalkan KL. 

MRT selalu datang tepat waktu. Ya, kami bisa melihat, ada running text di dekat langit-langit stasiun, yang menjadi penunjuk bahwa kereta akan datang dalam sekian detik atau sekian menit. Sangat akurat, dan kami tidak menunggu lama. Bahkan Dimas 'backpacker addict' yang sudah melanglang asia mengatakan bahwa dijam-jam sibuk di KL, orang-orang sini selalu antri dengan tertib.. wow. Kami transit di Stasiun Hang Tuah untuk pindah koridor, tidak perlu bayar lagi. Stasiun-stasiun di sini sangat terawat, keretanya juga terawat, tepat waktu, nyaman. Senangnya bila semua ini ada di Indonesia.

Kami sempat makan di dekat stasiun KL Sentral, di salah satu kedai kaki lima yang bersih, makan nasi Briyani sepiring berdua penuh lauk, semangkok es cendol, dan segelas es teh manis. Entah kenapa disini porsi makan selalu jumbo, jadi kami kenyang walaupun sepiring berdua. Total yang kami makan kurang lebih 11 RM. Lalu kami berkeliling di KL Sentral.

Sky Bus Salah satu bus yang melayani rute LCCT ke KL Sentral dan sebaliknya (Sumber Dok. Pribadi)
Akhirnya kami memutuskan langsung ke Bandara. Perjalanan naik bus ke LCCT sangat lancar. Sepanjang perjalanan, di kanan dan kiri, semua teratur, pepohonan, flat / rumah susun.. sama sekali tidak tampak pemukiman padat penduduk. Dimana ya mereka tinggal? Kami celingukan, rupanya disini permukiman didominasi flat/rumah susun yang tertata rapi.. Hampir tidak ada cacat / sampah / sesuatu kekumuhan disana yang bisa kami jadikan alasan untuk menyamakannya dengan Jakarta.
 
Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk menunggu di Bandara LCCT, nongkrong di Marry Brown (semacam KFC / McD) agaaiinnnn ayam goreng.... aaahhhh.... duit terbatas.  Lalu setelah kenyang kami menuju salah satu pojokan dekat tempat check in pesawat, duduk di lantai karena kursi di ruang tunggu sudah penuh. Sampai sempat tertidur. 

Pukul 18.00 teman-teman datang, lalu kami check in. Cacatan: patuhi jam check in, jangan terlambat.

Kepergian kami dari Malaysia dilepas dengan curahan hujan deras, hingga harus memakai payung saat menuju pesawat. Ah, aku rasanya masih belum mau percaya petualangan kali ini sudah selesai, aku masih ingin tinggal, aku masih ingin berjalan-jalan di KL. Rasanya batin berontak. Aku hanya bisa mengucap selamat tinggal melalui jendela pesawat. 

Bahkan saat malam hari, dari jendela pesawat terlihat Kuala Lumpur yang rapi dan indah. 

Kemajuan yang dicapai Malaysia terutama Kuala Lumpur jauh melampaui apa yang kami capai, Indonesia terutama Jakarta. Kami harus belajar banyak. Aku akan kembali lagi suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar